G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web.
| Page 1 |
| Page 1 |
Berikut ini adalah versi HTML dari berkas http://shelmi.files.wordpress.com/2008/04/karir.ppt.
G o o g l e membuat versi HTML dari dokumen tersebut secara otomatis pada saat menelusuri web.
Karir
Bahan kuliah SDM
Syafrizal Helmi
Karier merupakan suatu arah umum yang dipilih oleh seseorang untuk mengejar keseluruhan kehidupan kerjanya (Mondy dan Noe, 1996).
karir mempunyai 3 (tiga) pengertian karir yang berbeda, yaitu:
PERENCANAAN KARIR
Alasan mengadakan perencanaan karir
Mengapa perencanaan karir penting
MANFAAT PERENCANAAN KARIR
Unsur-unsur Program Perencanaan Karir.
Dalam kursus penyuluhan karir, pegawai berusaha menjawab jenis-jenis pertanyaan :
PENGEMBANGAN KARIR
PENGEMBANGAN KARIR INDIVIDUAL
keberhasilan karir dipengaruhi oleh :
Jalur karier memiliki suatu fokus secara historis pada mobilitas ke atas di dalam suatu pekerjaan tertentu.
Terdapat empat jalur karier yang biasa digunakan oleh organisasi, yaitu jalur karier tradisional, jalur karier jaringan, jalur karier lateral, dan jalur karier rangkap.
Tingkatan karir
‘Characteristic of Managerial Careers in the 21st Century’
Tes Tengah Semester Fakultas Psikologi
Analisa Kasus Pembangunan PT Semen Gresik di Pati

Disusun oleh :
UNDIK SASONGKO
802004124/ KELAS A
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA
SALATIGA
2008
A. Daftar isi
Halaman Judul…………………………………………………………………….1
A. Daftar isi…………………………………………………………………....2
B. Abstraksi…………………………………………………………………....3
C. Latar belakang……………………………………………………………..4
D. Isi…………………………………………………………………………...10
E. Kesimpulan………………………………………………………………...13
F. Daftar pustaka……………………………………………………………..15
B. Abstraksi
Pengelolaan kawasan
Kawasan
C. Latar belakang
Undang-Undang No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah yang merefleksikan otonomi daerah memberikan ruang atas kebijakan-kebijakannya dalam mengelola daerahnya baik propinsi maupun kabupaten. Dalam undang-undang ini telah memberikan hak yang sangat tinggi terhadap setiap daerah dalam mengatur kebijakan-kebijakan daerah dalam mendukung program pembangunan berkelanjutan di era otonomi daerah, untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan, pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat, serta peningkatan daya saing daerah dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan suatu daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pemanfaatan sumberdaya yang ada di dalam suatu daerah termasuk sumberdaya alam merupakan wewenang dari daerah untuk mengelolanya yang dilaksanakan secara adil dan selaras, hal ini perlu diperhatikan bahwa setiap kebijakan-kebijakan harus memperhatikan keberlanjutan lingkungan baik fisik, biotik dan sosial. Masuknya investor-investor luar ke suatu daerah memberikan tawaran yang sangat menarik bagi pemerintah daerah dalam mewujudkannya untuk mendukung program pembangunan di daerah dan dapat meningkatkan pendapatan bagi daerahnya.
Kawasan
Rencana PT Semen Gresik untuk memperluas wilayah industrinya di kawasan Kars Kendeng dari Tuban hingga ke Pati memberikan tawaran kepada pemerintah Kabupaten Pati untuk membangun pabrik semen di Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati. Perusahaan ini akan menambang batugamping di kawasan Kars Kendeng Utara. Bahan
Dalam hal ini pemerintah menawarkan kepada masyarakat akan dampak pentingnya pembangunan pabrik semen di wilayah ini terutama untuk kesejahteraan masyarakat, mengurangi tingkat pengangguran di suatu daerah, memajukan daerah dan meningkatkan pendapatan daerah. Sebagian besar masyarakat Sukolilo hidup sebagai petani yang sangat bergantung pada Kawasan Kars Pegunungan Kendeng Utara terutama sumberdaya air yang berasal dari perbukitan
Kebijakan pemerintah yang mengatur perlindungan terhadap kawasan
1) Kawasan Kars Kelas I merupakan kawasan yang memiliki salah satu, atau lebih kriteria berikut ini :
1. Berfungsi sebagai penyimpan air bawah tanah secara tetap (permanen) dalam bentuk akuifer, sungai bawah tanah, telaga atau danau bawah tanah yang keberadaannya mencukupi fungsi umum hidrologi;
2. mempunyai gua-gua dan sungai bawah tanah aktif yang kumpulannya membentuk jaringan baik mendatar maupun tegak yang sistemnya mencukupi fungsi hidrologi dan ilmu pengetahuan;
3. gua-guanya mempunyai speleotem aktif dan atau peninggalan-peninggalan sejarah sehingga berpotensi untuk dikembangkan menjadi obyek wisata dan budaya;
4. mempunyai kandungan flora dan fauna khas yang memenuhi arti dan fungsi sosial, ekonomi, budaya serta pengembangan ilmu pengetahuan.
2) Kawasan Kars Kelas II merupakan kawasan yang memiliki salah satu atau semua kriteria berikut ini :
1. berfungsi sebagai pengimbuh air bawah tanah, berupa daerah tangkapan air hujan yang mempengaruhi naik-turunnya muka air bawah tanah di kawasan
2. mempunyai jaringan lorong-lorong bawah tanah hasil bentukan sungai dan gua yang sudah kering, mempunyai speleotem yang sudah tidak aktif atau rusak, serta sebagai tempat tinggal tetap fauna yang semuanya memberi nilai dan manfaat ekonomi.
3) Kawasan Kars Kelas III merupakan kawasan yang tidak memiliki kriteria sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2).
Dalam kebijakan pemanfaatan dan pengelolaan kawasan
1. Di dalam Kawasan Kars Kelas I tidak boleh ada kegiatan pertambangan.
2. Di dalam Kawasan Kars Kelas I dapat dilakukan kegiatan lain, asal tidak berpotensi mengganggu proses karstifikasi, merusak bentukbentuk
3. Di dalam Kawasan Kars Kelas II dapat dilakukan kegiatan usaha pertambangan dan kegiatan lain, yaitu setelah kegiatan tersebut dilengkapi dengan studi lingkungan (Amdal atau UKL dan UPL) sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
4. Di dalam Kawasan Kars Kelas III dapat dilakukan kegiatan-kegiatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Bagian Selatan Kabupaten Pati memapar sebuah pegunungan, lebih dikenal sebagai Pegunungan Kendeng Utara. Pegunungan Kendeng Utara tersebut merupakan hamparan perbukitan batukapur yang telah mengalami proses-proses alamiah dalam batasan ruang dan waktu geologi. Produk dari dinamika bumi yang berlangsung dari masa lalu hingga saat ini telah menghasilkan suatu fenomena alam yang unik. Kita mengenalnya dengan istilah Bentang Alam Kars.
Fenomena bentang alam
D. Isi
Dari kasus akan pembangunan PT. SEMEN GRESIK di Pati, menunjukkan bahwa masyarakat Pati yang merupakan warga tradisional pelestari alam dan budaya Jawa yang menamakan diri Sedulur Sikep atau anak keturunan dan pengikut Wong Samin sangat mencintai alam dan menjunjung tinggi nilai nilai kehidupan. Mereka sangat menghargai alam semesta ini, karena misalkan tanah mereka jadi dibangun pabrik semen, ekosistem kehidupan akan rusak. Di kawasan pegunungan Kendeng Utara tersebut merupakan hamparan perbukitan batukapur yang telah mengalami proses-proses alamiah dalam batasan ruang dan waktu geologi. Produk dari dinamika bumi yang berlangsung dari masa lalu hingga saat ini telah menghasilkan suatu fenomena alam yang unik. Kita mengenalnya dengan istilah Bentang Alam Kars. Disana terdapat 87 mata air yang merupakan sumber dari kehidupan, dan jika pabrik semen itu nekat dibangun, maka 48 mata air di antaranya bakal mati. Didalam budaya Sedulur Sikep sendiri sangat menghargai dan menjunjung tinggi adapt istiadat mereka. Mereka sangat mengahrgai tetua mereka. Namun perjuangan warga Sedulur Sikep untuk membatalkan pembangunan pabrik Semen Gresik tidak mudah. Karena tidak sedikit dari warga lainnya yang malah mendukung pembangunan pabrik semen tersebut. Bahkan Bupati Pati Tasiman mengatakan dirinya akan menyukseskan rencana pendirian PT Semen Gresik di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah. Hal itu sangat bertentang an dengan warga Sedulur Sikep yang merupakan leluhur adat istiadat di Jawa. Persepsi Bupati Pati terhadap pembangunan pabrik semen adalah sistem otonomi daerah mengharuskan seorang bupati atau wali
Sementara PT Semen Gresik Tbk (SMGR) menargetkan bisa memulai produksi pabriknya di Pati tahun 2012 meskipun saat ini masih terjadi tarik ulur dengan warga setempat dan aktivis lingkungan. Produksi tahun 2012 itu adalah perminatan pemerintah karena pada tahun itu diperkirakan produksi semen nasional tidak sebanding dengan kebutuhan semen nasional yang tiap tahun meningkat. Pabrik Semen Gresik di Pati berlokasi di kawasan Gunung Kendeng, Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Studi Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) direncanakan rampung pada akhir 2008. Studi tersebut saat ini dikerjakan tim Amdal dari Universitas Diponegoro (Undip)
"Konsentrasi produksi dari pabrik Pati untuk memenuhi kebutuhan semen nasional. Karena selama ini kita sudah memenuhi 45 persen kebutuhan semen nasional," kata Saefudin Zuhri. Mengenai kualitas batuan kapur di Pati yang akan dibebaskan untuk tambang bahan
Kawasan
E. Kesimpulan
Perspektif Interaksionisme Simbolik
Perspektif Interaksionisme simbolik dikembangkan dari konsep interaksi sosial. Interaksi sosial menurut perpektif ini merupakan bagian yang penting dari masyarakat. Menurut Turner, ada empat asumsi dasar yang mendasari perspektif interaksionisme simbolik yaitu :
1. Manusia merupakan makhluk yang mampu menciptakan dan menggunakan simbol.
2. Manusia menggunakan simbol untuk saling berkomunikasi.
3. Manusia berkomunikasi melalui pengambilan peran (terjadi melalui role taking).
4. Masyarakat tercipta, bertahan, dan berubah berdasarkan kemampuan manusia untuk berpikir, untuk mendefinisikan, untuk melakukan renungan, dan untuk melakukan evaluasi.
Perspektif Interaksionisme simbolik melihat masyarakat sebagai kumpulan individu-individu yang berinteraksi secara tatap muka dan membentuk konsensus sosial. Perkembangan diri (kepribadian) individu berasal dari komunikasi dan interaksi sosial. Perubahan sosial bagi perspektif ini terjadi ketika tidak ada lagi konsensus bersama mengenai perilaku yang diharapkan. Perubahan itu termasuk dikembangkannya pencapaian konsensus yang baru. Perspektif ini menekankan pada konsep-konsep interpretasi, konsensus, simbol-simbol, adanya harapan-harapan bersama, dan kehidupan sosial membentuk kenyataan sosial
Para tokoh yang mengembangkan perspektif interaksionisme simbolik diantaranya adalah Georg Simmel dan Max Weber, William James, Charles Horton Cooley, John Dewey, George Herbert Mead, W.I. Thomas, Herbert Blumer, Erving Goffman, dan Peter Berger.
Sesusai dengan perspektif interaksionis simbolik dari ke empat pandangan atau persepsi dari empat tokoh tersebut kita bisa melihat dan mengetahui bahwa kita bertindak, memberi keputusan sesuai dengan persepsi dan pandangan kita. Bahkan dapat juga dilihat dari pengalaman, latar belakang dan interaksi soasial kita. Dari kasus PT. SEMEN GRESIK diatas kita dapat lihat dari persepsi masing-masing pihak. Tapi pada intinya adalah disatu sisi ada yang menolak dan di sisi lainnya mendukung pembangunan pabrik semn tersebut. Walaupun dengan berbagai macam alasan dan persepsi yang berbeda – beda. Kalau hal itu dibiarkan akan muncul konflik diantara dua belah pihak. Tapi, untuk menyatukan persepsi dari kedua belah pihak juga tidak mudah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Pusat Studi Manajemen Bencana, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta menyatakan bahwa kawasan kars memiliki fungsi ekosistem yang komplek, baik secara fisik (hidrologi, topografi, tanah, air dsb), secara biotik (flora dan fauna, biota-biota gua dan keanekaragaman hayati lainnya), dan secara culture merupakan tempat interaksi antara manusia dengan lingkungannya yang telah memberikan sumberdaya alam melimpah.
Simbol ini juga dapat digunakan sebagai solusi konflik antar kedua belah pihak Namun, sebelum simbol ini digunakan sebagai solusi konflik antara kedua belah pihak, harus dilakukan dulu komunikasi antar keduanya yang efektif, sehingga mereka memiliki persepsi yang sama terhadap pembangunan pabrik semen di daerahnya.
F. Daftar pustaka
http://pustaka.pasca.unpad.ac.id/pusakapps2/infopustaka4.php?id_pustaka2=T13470
Pengantar Sosiologi karya Wawan Hermawan
http://www.psmbupn.org/article/analisa-kebijakan-pengelolaan-kawasan-kars-sukolilo.html
BAB I
PENDAHULUAN
Perilaku manusia dapat dipelajri melalui cara melakukan tugas di lingkungan pekerjaannya. Manusia cenderung malakukan interaksi ( hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi ) dengan pekerjaan, lingkungan kerja dan lingkungan sosialnya. Manusia sebagai tenaga kerja menjadi anggota dalam organisasinya. Sebaliknya sebagai konsumen, manusia menjadi pengguna suatu produk atau jasa dalam organisasi.
Konflik yang terjadi seringkali membuat individu merasa takut dan cenderung untuk menghindarinya. Tanpa sadar individu tersebut sering mendengar, melihat, bahkan sedang mengalami konflik itu sendiri. Konflik dapat terjadi tanpa direncanakan terlebih dahulu. Kinflik dapat muncul secara tiba – tiba dan dapat terjadi dimana saja, kapan saja dan siapa saja. Dalam kesempatan ini, Soetrisno (2003)mengatakan bahwa bagi orang Indonesia, mendengar kata konflik seperti halnya mendengar sesuatu yang “ tabu “ sehingga harus dihindari.
Namun dimata orang barat, orang
Umumnya konflik – konflik ditempat kerja bukanlah hal yang istimewa, seperti adanya perbedaan pendapat yang kecil atau diskusi yang panas adalah kenyataan yang umum pada banyak lingkungan kerja. Memang konflik tersebut dapat menjadi produktif jika menghasilkan pemecahan yang kreatif. Namun jika terjadi perbedaan dan ketidaksetujuan pendapat, baik nyata maupun tidak maka dapat menimbulkan persaaan sakit bagi mereka yang telibat dalam konflik. Hal itu akan mengakibatkan stress yang berkepanjangan serta ketidakbahagiaan diantara dua belah pihak ( Waluyo, 1997 )
Sementara itu ada pernyataan yang menjelaskan bahwa konflik merupakan kondisi terjadinya ketidakcocokan antara nilai – niali atau tujuan – tujuan yang ingin dicapai, baik ada dalam diri individu maupun dalam hubungannya dengan orang lain ( Killman dan Thomas dalam Wijono,1993 ). Kondisi yang dikemukakan tersebut dapat mengganggu bahkan menghambat tercapainya tujuan organisasi atau perusahaan dan bias menimbulkan ketegangan emosi dan stress yang mempengaruhi efisiensi dan produktivitas kerja. Adanya sebuah konflik akan mengakibatkan individu mengalami perasaan kecewa dan tekanan jiwa ( Anaroga, 1992 )