Thursday, 6 March 2008

movere

MOTIVASI

Motivasi berasal dari kata movere ( latin ) ; to move – bergerak. Beberapa definisi motivasi ;

Evan ( 1989 )

Menunjuk pada pengaruh – pengaruh yang mengatur inisiatif, arah, intensitas dan keajegan dilakukannya prilaku.

Winkel ( 1989 )

Keseluruhan daya penggerak psikis didalam diri seseorang yang menimbulkan kegiatan tertentu, menjamin kelangsungan kegiatan tersebut dan memberiakan arah pada kegiatan tertentu demi mencapai suatu tujuan.

Purwanto ( 1994 )

Suatu usaha yang didasari untuk mempengaruhi prilaku seseorang agar ia tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu, sehingga mencapai hasil / tujuan tertentu.

Huffman, dkk (1999)

Adalah proses aktivasi, pemeliharaan ( maintenance ) dan pengarahan prilaku terhadap suatu tujuan.

Kesimpulan ada 3 aspek motivasi ;

  1. Daya penggerak ( kebutuhan ) yang menimbulkan usaha
  2. Arah dan tujuan yang hendak dicapai.
  3. pemeliharaan usaha yang terus menerus

TEORI TEORI MOTIVASI

Secara umum terbagi dalam Teori Biologis dan Teori Psikososial

@ Teori Biologis

Teori – teori yang berorientasi biologis cenderung menjelaskan munculnya motivasi dari proses bawaan yang cenderung mengontrol dan mengarahkan prilaku. Yang termasuk dalam teori ini adalah;

  • Teori insting

Insting adalah pola motorik yang sudah kaku – menetap, yang tidak dipelajari, yang diakarakteristikan oleh spesiesnya ( khas spesiesnys ) dan memiliki dasar keturunan / bawaan / genetik yang terikat oleh proses evolusi spesies tersebut.

Teori ini percaya bahwa prilaku manusia dibimbing oleh insting manusia tersebut.

William Mc. Dougall ( 1908 ) ; Manusia memiliki banyak insting, antara lain ; keingintahuan, berteman, reproduksi berkelahi, dsb ( biasa sisebut naluri )

Samapi 10.000 macam à diragukan kebenaranya

Edward O. Wilson ( 1975 )à” sociobiology “ faktor genetik dan biologi membentuk berbagai prilaku sosial baik pada manusia maupun hewan yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.

  • Teori Drive-Reduction ( Pengurangan dorongan )

Tahun 1930 –an konsep drive menggantikan konsep insting

Menurut teori Drive Reduction ( Hull, 1952; Spence, 1951 )

àSemua makhluk hidup memilki kebutuhan biologis tertentu ( makan, minum, oksigen,dll )yang harus terpenuhi supaya mereka dapat bertahan hidup. Hemeostasis ; kecenderungan untuk mempertahankan / memelihara keseimbangan lengkungan internal.

àBila kebutuhan ini tidak terpenuhi akan muncul kondisi ketenggan ( tension )à menimbulkan drive / dorongan pada individu untuk mengurangi ketegangan tersebut, yaitu termotivasi untuk berprilaku tertentu guna mengurangi ketegangan à konsep hemeostasis untuk selalu menjaga ekuilibrium ( bila hemeostasis menyimpang )

  • Teori Arousal

Konsep :

Arousal àlevel umum pembangkitan yang ditunjukkann dari beberapa sistem fisiologis, misal aktivitas elektris dalam otak, debar jantung ketegangan otot, dsb.

Normalnya Arousal paling rendah pada saat tidur lelap, paling tinggi pada saat panik / gembira yang ekstrim

Teori

Manusia termotivasi untuk berprilaku tertentu yang memungkinkan terpeliharanya level Arousal yang optimalà Bila terlalu tinggi Arousalnya akan diturunkan, bila terlalu rendah akan dinaikkan.

à Masing – masing individu memiliki level kondisi Arousal yang berbeda – beda, tergantung dari usia dan type kepribadiannya ( Ekstrovert – Introvert )

@ Teori Psikososial

  • Teori Hirarki Kebutuhan Maslow

Ada 5 jenjang kebutuhan :

1. Faali : Rasa lapar, haus, seks, sandang, papan

2. Keamanan : Keselamatan dan perlindungan dari kerugian fisik dan emosional

3. Sosial : Rasa kasih sayang, rasa dimiliki, diterima baik dan persahabatan

4. Penghargaa : Memperoleh rasa hormat internal ( harga diri, ekonomi, prestasi ) dan eksternal ( Status, pengakuan dan perhatian )

5. Aktualisasiu diri : mengoptimalkan seluruh potensi yang ada.

  • Teori ERG ( Clayton Alderfer )

Ada 3 kelompok kebutuhan manusia :

1. Exsistence (eksistensi)à kebutuhan faali dan keamanan

2. Relatedness (hubungan)à memelihara hubungan sosial

3. growth (pertumbuhan)à penghargaan dan aktulisasi diri

  • Teori Kebutuhan Mc. Clelland

Ada 3 kebutuhan utama :

1. Need of Achivement à dorongan untuk mengungguli, berprestasi terhadap sejumlah standar – standar tertentu dan berusaha keras untuk sukses

2. Need of Power à kebutuhan untuk membuat orang lain berprilaku menurut cara cara / aturan aturan tertentu, yang mana orang lain tersebut pada umumnya tidak akan berprilaku demikian ( jika tidak di paksa )

3. Need of Affiliation à hasrat untuk menjalin hubungan antar pribadi yang ramah dan akrab

Tuesday, 4 March 2008

bahan

Motivasi dalam Memilih Pacar beda Agama

I. LATAR BELAKANG

Penelitian ini berawal dari rasa ingin tahu peneliti terhadap hubungan cinta antara sesama manusia dengan perbedaan yang sangat berpengaruh terhadap dasar keimanan manusia terhadap Tuhannya. Apakah hubungan yang bermula dari sekedar pacaran dengan dasar agama yang berbeda hanya didasari oleh dorongan - dorongan cinta semata, atau ada dorongan lain yang membuat mereka menjalin hubungan tersebut. Kemungkinan terbesar, jika memang mereka serius dalam berhubungan dan samapai ke jenjang pernikahan mereka akan hidup dalam satu keyakinan, walaupun tidak sedikit pasangan yang bisa hidup berkeluarga dengan berbeda agama atau keyakinan. Oleh karena itu pasti ada salah satu pihak yang harus dikorbankan, atau mengikuti agama pasanganya. Di Indonesia atau di KUA ( Kantor Urusan Agama ), untuk menikah diharuskan dengan pasangan yang se-agama. KUA ( Kantor Urusan Agama ) yang menangani hal ini telah mengaturnya. Mungkin jika ada pasangan yang beda agam akan sulit untuk melakukan pernikahan.

Banyak sekali definisi tentang motivasi. Bagi banyak orang, motivasi sering diartikan sebagai suatu dorongan. Menurut Carlson ( dalam Rosana Dewi Yunita, 2000 ), motivasi memiliki aspek yang berasal dari sejumlah alasan atas ketidakkonsistenan prilaku, motivasi mengacu pada sebuah “driving force” yang menggerakan kita pada kegiatan / aksi tertentu namun lebih akurat apabila motivasi bukanlah sebuah force/ tenaga melainkan sebagai efek prilaku dari rangsangan keinginan dan keenganan serta rangsangan diskriminasi yang telah diasosiasikan dengan hal tersebut di masa lampau.

Teori motivasi mulai berkembang pesat sejak tahun 1950-an dengan tahap pembentukan konsep tentang motivasi dan teori-teori dasar. McClelland’s Theory of need oleh David McClelland ( dalam Rosana Dewi Yunita,2000 ), memfokuskan pada tiga kebutuhan penting yang didefinisikan sebagai berikut ;

1. Need for Achivement

Adalah dorongan untuk mengungguli, pencapaian tertentu.

2. Need for Power

Adalah kebutu7han untuk membuat orang lain berprilaku sejalan atau mereka tidak akan berprilaku sebaliknya.

3. Need for Affiliation

Adalah keinginan untuk bersahabat dan hubungan/ keterkaitan interpersonal yang dekat.

Egan ( dalam Moordiningsih, 2000 ) menyatakan pengambilan keputusan adalah kegiatan – kegiatan internal ( mental ) dalam melakukan pilihan dari beberapa alternatif pilihan.pengambilan keputusan dalam pengertian yang lebih lengkap mencakup pula penerapan atau konsekuensi secara nyata dari keputusan yang diambil.

Proses pengambilan keputusan ini sering dijumpai dalam kehidupan sehari – hari. Individu dihadapkan pada dua alternatif pilihan, dimana ia harus menentukan kecenderungan sikap atau prilaku yang akan diambil. Berbagai proses psikologis yang menyangkut aspek perasaan, pikiran maupun pengalaman individu terlibat dalam pengambilan keputusan. Dari sisi psikis bukanlah suatu hal mudahbagi seseorang untuk memutuskan suatu hal yang menyangkut dirinya sendiri.

Dalam pengambilan keputusan tersebut dibutuhkan suatu sikap yang mendorong seseorang untuk melakukannya. Dalam hal ini, motivasi sangatlah berpengaruh. Faried ( dalam Rosana Dewi Yunita, 2000 ) menyatakan motivasi sebagai suatu dorongan dalam hati dan terjadi ketika hati telah tertembus oleh hidayat oleh Tuhan. Sedangkan menurut Wexley & Yulk ( dalam Rosana Dewi Yunita, 2000 ) menyatakan bahwa motivasi adalah proses yang olehnya prilaku didorong dan diarahkan.

ROBBINS (2001) mendefinisikan pengambilan keputusan terjadi sebagai suatu reaksi terhadap suatu masalah. Ada suatu penyimpangan antara dewasa ini dengan kedaan yang diinginkan, yang menuntut pertimbangan arah tindakan alternatif. Setiap keputusan menunntut penafsiran dan evaluasi terhadap informasi. Lazimnya data diterima dari berbagai sumber dan kemudian disaring, diproses dan ditafsirkan.

Lebih spesifik menurut Robbins (2001) pengambilan keputusan rasional mempunyai arti membuat pilihan memaksimalkan nilai yang konsisten dalam batas-batas tertentu yang bertujuan memaksimalkan atau mengoptimalkan hasil (outcome)

Ada 6 langkah model dalam pengambilan keputusan rasional menurut Robbins:

1. Tetapkan masalah

2. Identifikasi kriteria keputusan

3. Alokasikan bobot pada kriteria

4. Kembangkan alternatif

5. Evaluasilah alternatif

6. Pilih alternative terbaik

Dill (dalam Islamy 2002) mendefinisikan suatu keputusan adalah suatu pilihan terhadap pelbagai alternative. Suatu proses dalam dimana pilihan-pilihan dibuat untuk mengubah ( atau tidak mengubah ) suatu kondisi yang ada, memilih serangkaian tindakan yang paling tepat untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan dan untuk mengurangi resiko-resiko, ketidakpastian dan pengurangan sumber-sumber dalam rangka mengejar tujuan.

Oleh karena itu pembuatan keputusan merupakan penentuan serangkaian tindakan ( a course of action ), maka proses pembuatan keputusan dilakukan terus menerus dan tidak mengenal berhenti.

Kesimpulan dari penagambilan keputusan adalah saat dimana ketika seseorang dengan berpikir rasional, memilih dan memutuskan atas beberapa pilihan yang diharapkan atau suatu peristiwa yang dihadapi.


“Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002: 807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta-kasih. Berpacaran adalah bercintaan; [atau] berkasih-kasihan [dengan sang pacar]. Memacari adalah mengencani; [atau] menjadikan dia sebagai pacar.”).

Setiap orang harus beragama dan agama itu harus merupakan agama yang sejalan dengan pemikiran intelektual. Tanpa suatu agama, manusia menjadi bahaya di dalam masyarakat. Para ilmuwan dan ahli ilmu jiwa telah memperluas wawasan kita, tetapi mereka tidak memberikan suatu tujuan hidup kepada kita. Hanya agamalah yang dapat memberikan tujuan hidup kepada kita. Oleh karena itu, manusia harus memilih agama yang rasional dan bersifat ilmiah sesuai dengan keyakinannya. Tak seorangpun hendaknya memanfaatkan kemiskinan, kebutahurufan, atau perasaan emosional manusia untuk memaksa orang lain untuk menerima

suatu agama tertentu. Manusia hendaknya bebas memilih agamanya sendiri sesuai dengan kesukaan dan kemampuan intelektualnya. Menganut suatu agama secara membuta, tanpa suatu pengertian, akan mengaburkan nilai-nilai spiritual agama itu. Manusia bukanlah binatang. Mereka memiliki kecerdasan dan akal sehat untuk membedakan antara sesuatu yang baik dan sesuatu yang

buruk. Mereka dapat menyeseuaikan diri mereka sendiri dengan keadaan di sekitarnya. Oleh karena itu, mereka dapat memilih suatu agama yang secara logis sehat dan dapat membangkitkan semangat.

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut.

Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi".[1]. Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan berreligi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan. http://id.wikipedia.org/wiki/Agama

1. Dalam bahasa Sansekerta

1. Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti "tradisi".

2. Dalam bahasa Sansekerta artinya tidak bergerak (Arthut Mac Donnell).

3. Agama itu kata bahasa Sansekerta (yaitu bahasa agama Brahma pertama yang berkitab Veda) ialah peraturan menurut konsep Veda (Dr. Muhammad Ghalib).

2. Dalam bahasa Latin

1. Agama itu hubungan antara manusia dengan manusia super (Servius)

2. Agama itu pengakuan dan pemuliaan kepada Tuhan (J. Kramers Jz)

3. Dalam bahasa Eropa

1. Agama itu sesuatu yang tidak dapat dicapai hanya dengan tenaga akal dan pendidikan saja (Mc. Muller dan Herbert Spencer).

2. Agama itu kepercayaan kepada adanya kekuasan mengatur yang bersifat luar biasa, yang pencipta dan pengendali dunia, serta yang telah memberikan kodrat ruhani kepada manusia yang berkelanjutan sampai sesudah manusia mati (A.S. Hornby, E.V Gatenby dan Wakefield)

4. Dalam bahasa Indonesia

1. Agama itu hubungan manusia Yang Maha Suci yang dinyatakan dalam bentuk suci pula dan sikap hidup berdasarkan doktrin tertentu (Drs. Sidi Gazalba).

2. Agama adalah sistem atau prinsip kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya dengan ajaran kebhaktian dan kewajiban-kewajiban yang bertalian dengan kepercayaan tersebut (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997)

5. Dalam bahasa Arab

1. Agama dalam bahasa arab ialah din, yang artinya :

1. taat

2. takut dan setia

3. paksaan

4. tekanan

5. penghambaan

6. perendahan diri

7. pemerintahan

8. kekuasaan

9. siasat

10. balasan

11. adat

12. pengalaman hidup

13. perhitungan amal

14. hujan yang tidak tetap turunnya

15. dll

2. Sinonim kata din dalam bahasa arab ialah milah. Bedanya, milah lebih memberikan titik berat pada ketetapan, aturan, hukum, tata tertib, atau doktrin dari din itu.

Enam agama besar yang paling banyak dianut di Indonesia, yaitu: agama Islam, Kristen Protestan dan Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Sebelumnya, pemerintah Indonesia pernah melarang pemeluk Konghucu melaksanakan agamanya secara terbuka. Namun, melalui Keppress No. 6/2000, Presiden Abdurrahman Wahid mencabut larangan tersebut. Tetapi sampai kini masih banyak penganut ajaran agama Konghucu yang mengalami diskriminasi dari pejabat-pejabat pemerintah. Ada juga penganut agama Yahudi, Saintologi, Raelianisme dan lain-lainnya, meskipun jumlahnya termasuk sedikit.

Menurut Penetapan Presiden (Penpres) No.1/PNPS/1965 junto Undang-undang No.5/1969 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan agama dalam penjelasannya pasal demi pasal dijelaskan bahwa Agama-agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Meskipun demikian bukan berarti agama-agama dan kepercayaan lain tidak boleh tumbuh dan berkembang di Indonesia. Bahkan pemerintah berkewajiban mendorong dan membantu perkembangan agama-agama tersebut.

Sebenarnya tidak ada istilah agama yang diakui dan tidak diakui atau agama resmi dan tidak resmi di Indonesia, kesalahan persepsi ini terjadi karena adanya SK (Surat Keputusan) Menteri dalam negeri pada tahun 1974 tentang pengisian kolom agama pada KTP yang hanya menyatakan kelima agama tersebut. Tetapi SK (Surat Keputusan) tersebut telah dianulir pada masa Presiden Abdurrahman Wahid karena dianggap bertentangan dengan Pasal 29 Undang-undang Dasar 1945 tentang Kebebasan beragama dan Hak Asasi Manusia.

Selain itu, pada masa pemerintahan Orde Baru juga dikenal Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang ditujukan kepada sebagian orang yang percaya akan keberadaan Tuhan, tetapi bukan pemeluk salah satu dari agama mayoritas. http://id.wikipedia.org/wiki/Agama

Wednesday, 6 February 2008

motivasi

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Motivasi dalam Pengambilan Keputusan Pembelian HP

I. PENDAHULUAN

Pada saat ini banyak sekali kemajuan – kemajuan yang dialami terutama dalam bidang teknologi. Pada perusahaan – perusahaan yang memproduksi barang, kualitas sangat berpengaruh dalam proses penjualan. Disamping itu, konsumen juga dipengaruhi oleh beberapa aspek dalam penagambilan keputusan untuk membeli suatu barang, terutama untuk produk Handphone yang sedang digemari oleh masyarakat.

Egan ( dalam Moordiningsih, 2000 ) menyatakan pengambilan keputusan adalahkegiatan – kegiatan internal ( mental ) dalam melakukan pilihan dari beberapa alternatif pilihan.pengambilan keputusan dalam pengertian yang lebih lengkap mencakup pula penerapan atau konsekuensi secara nyata dari keputusan yang diambil.

Proses pengambilan keputusan ini sering dijumpai dalam kehidupan sehari – hari. Individu dihadapkan pada dua alternatif pilihan, dimana ia harus menentukan kecenderungan sikap atau prilaku yang akan diambil. Berbagai proses psikologis yang menyangkut aspek perasaan, pikiran maupun pengalaman individu terlibat dalam pengambilan keputusan. Dari sisi psikis bukanlah suatu hal mudahbagi seseorang untuk memutuskan suatu hal yang menyangkut dirinya sendiri.

Dalam pengambilan keputusan tersebut dibutuhkan suatu sikap yang mendorong seseorang untuk melakukannya. Dalam hal ini, motivasi sangatlah berpengaruh. Faried ( dalam Rosana Dewi Yunita, 2000 ) menyatakan motivasi sebagai suatu dorongan dalam hati dan terjadi ketika hati telah tertembus oleh hidayat oleh Tuhan. Sedangkan menurut Wexley & Yulk ( dalam Rosana Dewi Yunita, 2000 ) menyatakan bahwa motivasi adalah proses yang olehnya prilaku didorong dan diarahkan.

ROBBINS (2001) mendefinisikan pengambilan keputusan terjadi sebagai suatu reaksi terhadap suatu masalah. Ada suatu penyimpangan antara dewasa ini dengan kedaan yang diinginkan, yang menuntut pertimbangan arah tindakan alternatif. Setiap keputusan menunntut penafsiran dan evaluasi terhadap informasi. Lazimnya data diterima dari berbagai sumber dan kemudian disaring, diproses dan ditafsirkan.

Lebih spesifik menurut Robbins (2001) pengambilan keputusan rasional mempunyai arti membuat pilihan memaksimalkan nilai yang konsisten dalam batas-batas tertentu yang bertujuan memaksimalkan atau mengoptimalkan hasil (outcome)

Ada 6 langkah model dalam pengambilan keputusan rasional menurut Robbins:

1. Tetapkan masalah

2. Identifikasi kriteria keputusan

3. Alokasikan bobot pada kriteria

4. Kembangkan alternatif

5. Evaluasilah alternatif

6. Pilih alternative terbaik

Dill (dalam Islamy 2002) mendefinisikan suatu keputusan adalah suatu pilihan terhadap pelbagai alternative. Suatu proses dalam dimana pilihan-pilihan dibuat untuk mengubah ( atau tidak mengubah ) suatu kondisi yang ada, memilih serangkaian tindakan yang paling tepat untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan dan untuk mengurangi resiko-resiko, ketidakpastian dan pengurangan sumber-sumber dalam rangka mengejar tujuan.

Oleh karena itu pembuatan keputusan merupakan penentuan serangkaian tindakan ( a course of action ), maka proses pembuatan keputusan dilakukan terus menerus dan tidak mengenal berhenti.

Kesimpulan dari penagambilan keputusan adalah saat dimana ketika seseorang dengan berpikir rasional, memilih dan memutuskan atas beberapa pilihan yang diharapkan atau suatu peristiwaw yang dihadapi.


Belakangan ini, produk yang sangat melonjak dan menjadi pusat perhatian masyarakat dalah handphone. Sering terjadi fenomena – fenomena tentang pembelian produk ini, dengan semakin banyaknya produk ini berada di pasaran. Dari sinilah peneliti berangakat untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dominan berperan dalam pengambilan keputusan konsumen dalam pembelian handphone.

II. LANDASAN TEORI

Banyak sekali definisi tentang motivasi. Menurut Carlson ( dalam Rosana Dewi Yunita, 2000 ), motivasi memiliki aspek yang berasal dari sejumlah alasan atas ketidakkonsistenan prilaku, motivasi mengacu pada sebuaj “driving force” yang menggerakan kita pada kegiatan/ aksi tertentu namun lebih akurat apabila motivasi bukanlah sebuah force/ tenaga melainkan sebagai efek prilaku dari rangsangan keinginandan keenganan serta rangsangan diskriminasi yang telah diasosiasikan dengan hal tersebut di masa lampau.

Teori motivasi mulai berkembang pesat sejak tahun 1950-an dengan tahap pembentukan konsep tentang motivasi dan teori-teori dasar. McClelland’s Theory of need oleh David McClelland ( dalam Rosana Dewi Yunita,2000 ), memfokuskan pada tiga kebutuhan penting yang didefinisikan sebagai berikut ;

1. Need for Achivement

Adalah dorongan untuk mengungguli, pencapaian tertentu.

2. Need for Power

Adalah kebutu7han untuk membuat orang lain berprilaku sejalan atau mereka tidak akan berprilaku sebaliknya.

3. Need for Affiliation

Adalah keinginan untuk bersahabat dan hubungan/ keterkaitan interpersonal yang dekat.

Gelatt ( dalam Egan 1990 ) menyatakan bahwa ada tiga langkah dalam pengambilan keputusan yaitu pengumpulan informasi, melakukan analisis dan membuat pilihan. Tversky dan Kahneman ( dalam Solso, 1988 ) membuat definisi tentang rancangan keputusan yaitu konsep-konsep dari pembuatan keputusan meliputi tindakan-tindakan, hasil dan berbagai kemungkinan yang timbul dari sebuah pilihan. Rancangan ini dibuat oleh seseorang untuk membuat keputusan yang dikendalikan oleh formulasi masalah yang dihadapi maupun norma, kebiasaan dan karakteristik pribadi seseorang.

Menurut Egan ( dalam Moordiningsih,2000 ) para pengambilan keputusan kadang-kadang melakukan tindakan sebagai berikut ;

1. Melewati beberapa pertimbangan untuk dianalisis dan segera mengambil pilihan

2. Pura-pura melakukan analisis karena kriteria untuk mengambila keputusan belum diketahui

3. Menghindar atau berlambat-lambat dalam mengambil keputusan untuk mengalihkan tanggung jawab.

4. Panik dan terburu-buru

5. Dikuasai oleh sesuatu yang tampaknya bena, tindakan dan situasi yang menonjol atau tekanan pihak lain yang dominan

6. Keputusan yang diambil dilakukan setengah hati.

7. Menentukan pilihan namun tidak disertai tindakan.

8. Tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan keputusan yang diambil.

Pengertian telepon

Dengan adanya telepon sebagai sarana komunikasi, penyampaian informasi dari suatu pihak kepihak lainnya semakin efektif dan efesien. Telepon berasal dari kata tele yang berarti jauh dan phone yang artinya suara berhubungan. Telepon yaitu penyampaian informasi dari suatu pihak kepihak lainnya dari jarak jauh, baik dalam lingkungan sendiri maupun keluar kantor. Alat yang pergunakan untuk penyampaian dan sekaligus berfungsi untuk mendengarkan suara atau pembicaraan disebut pesawat telepon. Sedangkan penyampaian isnformasi dari jarak jauh dengan mempergunkan pesawat telepon sering disebut dengan istilah telephoning atau peneleponan. Saat ini, penggunaan telepon sabagai sarana komunikasi sangatlah penting terutama bagi para pengusaha. Sebab pembicaraan lewat telepon dapat diartikan pula sebagai pembicaraan langsung tatap muka dan dapat mewakili diri pribadi atau yang lainya.

http://media.diknas.go.id/media/document/4743.pdf

III. METODELOGI PENELITIAN

Tuesday, 6 November 2007

I. RIWAYAT KELAHIRAN

Sebagai seorang ibu rumah tangga, Murdanis tentu tidak ingin melahirkan anak yang mengalami atau menderita suatu gangguan kesehatan, baik mental maupun fisik. Namun apa mau dikata, dengan usia kandungan yang normal seperti halnya ibu – ibu yang lainnya, ia pun mengandung selama 9 bulan 10 hari. Tetapi, ketika melakukan persalinan, ia mengalami sedikit gangguan. Proses kelahiran yang dirasakan sangat menyiksa dirinya dan sangat sulit untuk mengeluarkan sang bayi yang telah dinantinya selama 9 bulan 10 hari tersebut. Walaupun begitu, Ibu tersebut tetap berusaha dan tidak putus asa. Akhirnya keluarlah sang buah hati dengan berat yang normal dan terlihat sehat.

IV. GEJALA - GEJALA

Di usia kurang lebih 8 bulan, ditemukan keganjilan pada bayi tersebut. Ketika Ibunya sedang menggendong anaknya, ia merasa bahwa leher anaknya terasa lemah dan tidak begitu kuat. Tetapi ibunya kurang begitu memperhatikannya. Lama – lama ia curiga, karena perkembangan anaknya tidak sama dengan anak –anak sebayanya. Anak tersebut baru bisa berjalan diusia 5 ½ tahun, dan sering mengalami muntah dan kejang – kejang. Anak itupun kurang dapat berbicara. Sehingga apa yang diinginkannya tidak dapat dimengerti oleh orang tuanya. Melihat hal tersebut, orang tuanya membawanya ke dokter spesialis anak.

II. DIAGNOSA

Dari gejala – gejala yang telah ada, subyek mengalami gangguan keseimbangan dan gangguan berbicara yang dikarenakan terjadi suatu kerusakan pada system syaraf otak.

Subyek mengalami gangguan Cerebral Palsy yaitu, merupakan salah satu bentuk brain injury yaitu, suatu kondisi yang mempengaruhi pengendalian system motorik sebagai akibat lesi dalam otak ( R.S. Illingworth ), atau suatu penyakit neuromuscular yang disebabkan oleh gangguan perkembangan atau kerusakan sebagian dari otak yang berhubungan dengan pengendalian fungsi motorik.

Ada beberapa faktor yang menimbulkan kerusakan didalam otak pada anak – anak yang kemudian mengakibatkan cacat cerebral palsy. Hal itu bisa terjadi sebelum anak dilahirkan, pada saat dilahirkan, maupun setelah dilahirkan.

a. Sebab – sebab yang timbul sebelum kelahiran

1. Faktor congenital ketidaknormalan sel kelamin pria

2. Pendarahan waktu kehamilan

3. Trauma atau infeksi pada waktu kehamilan

4. Kelahiran premature

5. Keguguran yang sering dialami ibu

6. Usia ibu yang sudah lanjut pada waktu melahirkan anak

b. Sebab – sebab yang timbul pada waktu kelahiran

1. Penggunaan alat – alat pada waktu kelahiran yang sulit, misal tabung, vaccum.

2. Penggunaan obat bius pada waktu proses kelahiran

c. Sebab – sebab yang timbul setelah kelahiran

1. Penyakit Tuberculosis

2. Radang selaput otak

3. Radang otak

4. Keracunan arsen atau karbon monoksida

Menurut PPDGJ subyek mengalami gangguan perkembangan motorik khas. Axis III, F28. Gangguan perkembangan motorik khas. Gambaran utama dari gangguan ini adalah hendaya berat dalam perkembangan koordinasi motorik yang tidak semata – mata disebabkan oleh retardasi mental atau neurologis khas baik yang didapat atau yang congenital ( selain dari yang secara implisit ada kelainan koordinasi ). Sesuatu yang biasa bahwa kelambanan motorik dihubungkan dengan hendaya dalam kemampuan melaksanakan tugas kognitif visuo-spasial.

Jangkauan dari gangguan yag meliputi koordinasi motorik halus dan kasar sangat luas, dan pula hendaya motorik bervariasi sesuai usia. Tahap perkembangan motorik dapat terlambat dan dapat berkaitan dengan kesulitan berbicara ( khususnya mengenai gangguan artikulasi ). Anak tampak aneh cara berjalannya, lambat belajar berlari, meloncat dan naik turun tangga. Terdapat kesulitan belajar mengikat tali sepatu, memasang dan melepaskan kancing, serta melempar dan menangkap bola. Anak tampak lamban dalam gerak halus dan kasar, benda yang dipegang mudah ; terjatuh, tersandung, menabrak, dan tulisan tangan yang buruk. Tak pandai menggambar, dan sulit mengerjakan permainan “ jigsaw “, menggunakan peralatan konstruksional, menyusun bentuk bangunan, membangun model, main bola serta menggambar dan mengerti peta. Sering disebut juga “ the clumsy child syndrome “.

III. ASSESMENT YANG PERNAH DILAKUKAN

Oleh seorang dokter spesialis anak, anak tersebut didiagnosa mengalami gangguan pada syaraf otaknya. Terjadi penyempitan pada syaraf otak yang mengakibatkan anak tersebut sulit untuk bicara dan berjalan. Tidak puas dengan diagnosa tersebut, orang tuanya membawa ke dokter lain di Semarang. Oleh dokter tersebut dilakukan EEG, untuk mengetahui gangguan pada otaknya. Anak tersebut diberikan obat untuk mengurangi kejang dan muntah yang dialaminya. Bahkan anak tersebut sempat di bawa ke pengobatan alternatif dengan melakukan berbagai terapi.

Setelah melakukan berbagai pengobatan tadi, anak tersebut akhirnya sedikit – sedikit mengalami perkembangan. Ia bisa berjalan walaupun kurang normal seperti anak – anak lainnya. Namun setidaknya dapat memberikan harapan terhadap perkembangan selanjutnya. Karena rekomendasi dari Prof. Dr. Soemantri spesialis anak agar ia sekolah di sekolah khusus, subyek sekarang sekolah di SDLB Mangunsari Salatiga dan duduk di bangku kelas 2. Pada dasarnya anak tersebut mempunyai daya ingat yang kuat. Ia masih bisa di ajak bicara walaupu ia gagap dalam berbicara, tetapi ia bisa mengerti apa yang dikatakan oleh orang lain. Bahkan ia pun tahu kapan acara TV yang ia inginkan akan ditayangkan dan dia bisa menyalakan TV itu sendiri. Walaupun kurang dapat berbicara, ia tahu dan mengerti apa yang di bicarakan ibunya, bahkan disekolahpun ia tergolong anak yang cukup pandai.

IV. INTERVENSI SAAT INI / PENDIDIKAN YANG DILAKUKAN

Sesuai dengan rekomendasi dari dokter, subyek sekarang sekolah di SDLB Mangunsari Salatiga dan sedang duduk di kelas 2. Walaupun sudah bisa berjalan namun subyek masih sulit untuk berbicara. Karena hal tersebut subyek sekarang masih menjalani terapi bicara dengan menggunakan terapi fisioterapi. Subyek disuruh meniup balon atau meniup lilin untuk merenggangkan otot – otot pada rahang. Terapi tersebut sedikit demi sedikit memberi perkembangan pada subyek, walaupun belum maksimal.

V. TREATMENT LAIN YANG DISARANKAN ( REKOMENDASI TERATMENT )

Ø Minum obat secara teratur

Ø Melakukan kontrol setiap bulan sekali

Ø Selalu mengikuti terapi yang sudah ada

Ø Memberi dukungan agar subyek tidak merasa minder di masyarakat

Ø Kasih sayang orang tua untuk selalu mendukungnya.


VI. DAFTAR PUSTAKA

· Fausiah. Fitri & Widury. Julianti, Psikologi Abnormal “ Klinis Dewasa “, UI – PREES, 2005, Jakarta.

· Maslim. Rusdi. Dr. PPDGJ III, “ Diagnosis Gangguan Jiwa “, 2002, Jakarta.

· Suparti Slamet I.S – Sumarmo Markam, “ Pengantar Psikologi Klinis “, UI – PRESS, 2003, Jakarta.

· Dra.T. Sutjihati Somantri, M.Si., psi, “ Psikologi Anak Luar Biasa “, 2006, Bandung.

Friday, 26 October 2007

autisme


Nama saya Laksminatun, tapi keluarga dan teman saya cukup memanggil Atun, saya ibu dari Sarah, gadis bongsor berusia 10 tahun 6 bulan yang kata dokter dulu disebut autis tapi tidak murni, tapi sampai hari ini belum bisa bicara dengan jelas dan benar, karena baru bisa meniru ucapan saja, belum spontan. 3 bulan terakhir anak saya berobat homeopatyh, karena saya sadar kasus seperti anak saya ternyata perlu dibantu dengan usaha pengobatan medis. Tapi sayangnya pengobatan yang ada selalu harus dengan biaya besar perbulan, sementara dia masih punya kakak dan adik yang juga perlu biaya pendidikan yang besar juga. Sejak usia 2 tahun 9 bulan Sarah sudah mulai terapi. Alhamdulillah walau kata orang lain tidak seberapa, tapi sekarang Sarah sudah bisa membaca, menulis dan berhitung sederhana.

Kriteria DSM IV untuk Autisme masa kanak

  1. Gangguan kualitatif dalam interaksi yang timbal balik
    1. Tidak mampu menjalin interaksi sosial yang cukup memadai ; kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, gerak – gerik yang kurang tertuju.
    2. Tidak bias bermain dengan teman sebaya.
    3. Tidak dapat merasakan apa yang dirasakan orang lain
    4. Kurangnya hubungan social dan emosional yang timbale balik.
  2. Gangguan kualitatif dalam bidang komunikasi .
    1. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tidak berkembang ( tak ada usaha untuk mengimbangi komunikasi dengan cara laintanpa bicara )
    2. Bila bisa bicara, bicaranya tidak dipakai untuk komunikasi.
    3. Sering menggunakan bahasa yang aneh dan diulang – ulang.
    4. Cara bermain kurang variatif, kurang imaginative dan kurang bisa meniru.
  3. Suatu pola yang dipertahankan dan diulang ulang dari perilaku, minat dan kegiatan.
    1. Mempertahankan satu minat atau lebih dengan cara yang sangat khas dan berlebih lebihan
    2. Terpaku pada suatu kegiatan yang ritualistik dan rutinitas yang tidak ada gunanya.
    3. Ada gerakan – gerakan yang aneh yang khas dan diulang – ulang.
    4. Seringkali sangat terpaku pada bagian – bagian benda.

Peran Psikolog dalam rekomendasi pendidikan :

  1. Melakukan pengetesan untuk mengetahui taraf kemampuan anak
  2. membuat surat rekomendasi bagi guru bila anak autistelah dapat mengikuti pendidikan di sekolah.
  3. memberikan saran bagi guru berkaitan dengan teknik pengajaran, guru pendamping dan program pendidikan individual.